Ketika kakek meninggal tahun 1984, ratusan pasang mata anak yatim
menangis. Saya yakin mereka mencintai kakek dan khawatir kehilangan
orang yang selama ini menyantuninya. Ternyata kekhawatiran mereka tak
berlangsung lama, karena nenek berjanji untuk tetap melanjutkan tradisi
keluarga itu. Sayangnya, sejak seluruh keluarga nenek pindah dari
Jakarta ke Tangerang, entah siapa yang melanjutkan menyantuni anak-anak
yatim di Jakarta itu. Nenek tetap menyantuni anak yatim, tentu anak-anak
yatim di Tangerang, di sekitar rumahnya.
Puluhan pasang mata anak yatim pun menangis sedih saat nenek
meninggal di tahun 1998. Sebelumnya, nenek berpesan kepada semua
anak-anaknya agar tetap menyantuni anak yatim. “Jika kita tak punya
uang, ajak orang lain untuk menyantuni anak yatim. Dicintai anak yatim
itu salah satu kunci pintu surga,” salah satu pesan terakhirnya. Tentu
saja, tak satupun anak-anak nenek berani mengabaikan pesan tersebut. Dan
hingga kini, tradisi ini masih terus berlangsung meski kami sering tak
tahu harus mendapat bantuan dari mana untuk menyantuni anak-anak yatim,
janda tua dan kaum dhuafa di sekitar rumah.
Tahun lalu, menjelang bulan Muharram tiba, biasanya ibu mulai
direpotkan dengan meminta anak-anaknya membuat proposal permohonan
bantuan. Semakin dekat bulan Muharram ibu semakin panik, terlebih jika belum satu pun permohonan mendapat jawaban. Saya tahu persis
kekhawatiran ibu, ia tak ingin malu kepada
anak-anak yatim dan janda tua
itu jika mereka datang ke rumah dan tak mendapatkan apa pun. Karena
tanpa diundang pun, mereka sudah tahu jadwal pemberian santunan itu,
yakni tepat tanggal 10 Muharram setiap tahunnya. “Ibu tak ingin membuat
mereka kecewa. Biar sedikit yang penting tetap ada,” harapnya.
Muharram tahun ini sudah tiba. Seperti biasa, ibu pun tetap sibuk
mempersiapkan segala sesuatunya. Memang tidak pernah ada seremoni dan
adegan foto pemberian santunan. Anak-anak yatim itu hanya datang untuk
mengambil “haknya”, sudah itu pulang. Namun ibu masih terlihat resah,
belum banyak bantuan yang didapatnya untuk membeli sembako dan sedikit
untuk mengisi amplop kosong. Semua anak-anak ibu sudah membantu, bahkan
membawa proposal permohonan bantuan itu ke kantor masing-masing.
Dalam keresahannya itu, ibu berujar, “Cuma satu keinginan ibu, yakni
dicintai anak-anak yatim. Ibu ingin saat meninggal nanti ada anak-anak
yatim yang menangis. Itu berarti mereka mencintai ibu”. Dan sambil
menghitung dana yang ada ia pun berpesan persis seperti dulu nenek
berpesan kepadanya, “Jangan putus amal keluarga, tetap santuni anak
yatim”.
Saya bisa menangkap kekhawatiran ibu dalam dua hal. Pertama, ibu
khawatir tahun ini tidak banyak bantuan yang didapat, sehingga tidak
banyak pula yang bisa diberikan kepada anak-anak yatim. Kedua, nampaknya
ibu pun khawatir anak-anaknya tak melanjutkan tradisi ini. Ah ibu,
doakan anakmu ini diberikan rezeki yang cukup, agar ada yang terbagi
untuk mereka. Tentu saya juga punya keinginan yang sama, mendapatkan
salah satu kunci surga karena dicintai anak yatim.***






0 komentar:
Posting Komentar