Mitra JIC Jangan pernah takut gagal

Oleh karenanya tak perlu kita takut dengan KEGAGALAN. Hal yang paling penting buat kita adalah berusaha MAKSIMAL. Kita mesti sadar bahwa dalam kehidupan ini, tidak semua hal bisa kendalikan dan kuasai. KEGAGALAN terkadang memberitahukan pada kita, agar kita mampu mencari cara yang lebih efektif untuk KESUKSESAN KITA.

Anda pasti bisa...

Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya, coba dan perhatikan niscaya kamu menjadi orang yang mengetahui..

Tumbuhnya hasrat

Hasrat yang tidak terbendung akan melawan semua rintangan dan penghalang yang akan menghambat kita mewujudkan impian menjadi KENYATAAN.

Mitra JIC jangan pernah takut gagal

Oleh karenanya tak perlu kita takut dengan KEGAGALAN. Hal yang paling penting buat kita adalah berusaha MAKSIMAL. Kita mesti sadar bahwa dalam kehidupan ini, tidak semua hal bisa kendalikan dan kuasai. KEGAGALAN terkadang memberitahukan pada kita, agar kita mampu mencari cara yang lebih efektif untuk KESUKSESAN KITA.

Mitra JIC jangan pernah takut gagal

Oleh karenanya tak perlu kita takut dengan KEGAGALAN. Hal yang paling penting buat kita adalah berusaha MAKSIMAL. Kita mesti sadar bahwa dalam kehidupan ini, tidak semua hal bisa kendalikan dan kuasai. KEGAGALAN terkadang memberitahukan pada kita, agar kita mampu mencari cara yang lebih efektif untuk KESUKSESAN KITA.

alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Senin, 30 Desember 2013

Antara Teman Dan Keyakinan (oase iman)

stop natalAku baru saja pulang dari sholat Isya di mushola ketika kulihat putri tunggalku sudah menunggu di depan pintu dengan senyum mengembang di wajahnya. Dengan semangat dia katakan bahwa Om A tadi datang ke rumah tapi tidak lama, hanya mengantar bingkisan dan langsung pamit pulang karena buru-buru mau ke gereja untuk merayakan malam natal di sana.
Om A adalah teman kantorku, dia bersebelahan meja denganku. Dia seorang keturunan China yang beralih keyakinan dari Budha menjadi seorang nasrani. Sebagai teman kerja, A adalah teman yang ramah, baik hati dan suka membantu. Dia juga memiliki toleransi yang tinggi untuk urusan agama.
Bi, biscuit dari Om A boleh dimakan nda? “ tanya putriku sambil membawa sekaleng besar biscuit.
Boleh
Tapi kan Om A itu orang nasrani “ anakku masih ragu untuk membuka kaleng biscuit di depannya
Nda apa-apa, makanlah “ jawabku mantap
Secara singkat kujelaskan pada putriku bahwa pemberian dari temanku itu boleh dimakan -meski dia seorang nasrani sekalipun – sebab kulihat biscuit yang ia berikan adalah biscuit yang biasa dijual di toko dan sering ada di saat-saat idul fitri. Tak ada unsur haram didalamnya, tak ada kaitan dengan ritual keyakinannya, barangkali dia hanya memanfaatkan momen natalnya untuk berbagi dengan orang lain, termasuk aku sebagai teman kerjanya.
Apa Abi akan menelpon Om A untuk mengucapkan selamat natal ?” tanya putriku sambil membuka kaleng biscuit yang sudah sejak tadi dipangkunya.
Tidak! Kalaupun nanti abi telpon, itu untuk mengucapkan terima kasih karena sudah diberi bingkisan, bukan untuk mengucapkan selamat natal “ jawabku pasti
**
Bukan hanya putriku yang baru berusia sembilan tahun, siang sebelumnya beberapa teman kerjaku yang sudah ‘dewasa’ pun menanyakan hal yang serupa, apakah aku akan mengucapkan selamat natal kepada beberapa teman kerja yang akan merayakannya. Dengan tegas kujawab tidak! Bagiku pertemanan, persahabatan, ataupun hubungan kerja menempati ruang yang berbeda dengan keyakinan.
Tidak pada si A, teman kerjaku. Juga tidak pada si B, atasan di perusahan tempatku bekerja. Tidak pada si C kenalanku di dunia maya. Atau pada si D yang selalu memberiku ucapan selamat saat merayakan Idul Fitri ataupun Idul Adha. Aku memiliki pandangan tersendiri terhadap makna toleransi. Tidak menghalangi, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan apa yang menjadi keyakinannya adalah satu bentuk toleransi yang ‘aman’ ketimbang harus melanggar batas keyakinan untuk sebuah alasan pertemanan.
Begitulah, tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya dan juga untuk tahun-tahun berikutnya, tak ada ucapan selamat natal bagi teman, atasan, ataupun juga kenalan. Ini bukan soal tidak toleran, tapi ini berkaitan dengan keyakinan.

Berbuat baik tanpa batas (oase iman)

tangan di atasAda kisah dari sahabat rasulullah SAW, kisah ini sangat berkaitan dengan firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 134, Allah mengabarkan kepada manusia untuk berbuat baik tanpa batas, yang unlimited.
Ada seorang sahabat, sebut saja Zaed. Zaed adalah saudagar kaya yang ingin menshodaqohkan sebagian hartanya, karena Zaed tidak ingin orang lain tahu bahwa dia akan bershadaqoh maka si Zaed memilih bershadaqoh  pada  malam hari.
Malam pertama, Zaed pergi ke suatu tempat dengan membawa satu kantong plastik yang berisi penuh uang dinar. Lalu Zaed memberikan kantong yang berisi plastik tersebut kepada orang tidak dikenal yang sedang berada di tempat tersebut.
Pagi harinya, Zaed mendapat kabar dari masyarakat bahwa tadi malam ada saudagar kaya yang kikir mendapatkan satu kantong berisi penuh uang dirham. Lantas, si Zaed berniatan lagi untuk bershadaqoh kepada orang yang tidak mampu pada malam kedua.
Malam keduanya, Zaed pergi dengan membawa satu kantong berisi penuh uang dirham, setelah sampai di suatu tempat Zaed menemukan perempuan yang sendiri duduk di samping jalan, lalu Zaed memberikan kantongnya kepada perempuan tersebut. Zaed lalu pulang kerumahnya.
Esok harinya, Zaed mendengar kabar lagi bahwa ada perempuan pekerja seks komersial yang mendapatkan satu kantong berisi penuh uang dirham, perempuan tersebut mengaku ada seorang yang memberinya ketika dirinya sedang duduk sendiri di samping jalan.
Mendengar kabar yang seperti itu, Zaed tetap mempunyai niatan untuk membantu orang yang sedang membutuhkan, lalu pada malam ketiganya Zaed pergi ke suatu tempat dengan membawa kantong berisi penuh uang dirham. Sesampainya di tempat, Zaed bertemu dengan orang laki-laki asing yang sedang berdiri sendirian.
Esok harinya, lagi-lagi Zaed mendengar kabar bahwa  ada orang dikenal sebagai pencuri atau maling  yang mendapatkan satu kantong berisi penuh oleh dirham ketika dirinya berniatan untuk bermain nakal kepada warga, malam tadi.
Meski seperti itu, Zaed tidak merasa merugi. Zaed tetap berserah diri kepada atas sesuatu yang sudah diberikan kepada orang lain.
Ternyata Allah berkehendak lebih baik, satu kantong yang diberikan oleh Zaed kepadanya menjadi batu pijakan untuk merubah dirinya untuk lebih baik lagi. Allah ternyata merencanakan sangat lebih baik dari rencana seorang hambanya.
Orang pertama yang mulanya dia seorang yang kaya raya tetapi kikir, setelah menerima pemberian yang secara cuma-cuma dari orang yang tidak dikenal, walhasil kekikiran berubah menjadi kesantunan. Orang tersebut berfikir ulang, si Zaed baik sekali, mau beramal dengan keikhlasan total dan tidak ingin diketahui oleh banyak orang. Bagaimana dengan aku? Terkadang ada orang yag meminta kepadaku, aku jawab dengan banyak alasan. Dan aku sukanya beramal didepan publik agar semua orang tahu, akan tetapi entaslah. AstaghfirullahalAdzim.
Orang yang kedua, dialah perempuan pekerja seks komersial atau yang sering kita sebut dengan bahasa halusnya PSK, setelah perempuan tersebut mendapat rezeki dari orang yang tidak dikenal dengan tanpa pamrih apapun, ia sadar, ia tidak lagi merelakan kehinaan didalam dirinya demi kebutuhanya terpenuhi, didalam hatinya, ia berkata “Tuhan, ternayata saya salah, seharusnya saya tidak menjual diri saya karena masih ada orang yang ikhlas membantu saya”.
Orang ketiga, tidak berbeda dengan orang pertama dan kedua, atas pemberian yang mulia dari orang yang tidak dikenal (Zaed), ia dapat berintropeksi diri, mengoreksi diri dengan renungan amal baik, yang sebelumnya Zaed tidak pernah menemukan hal yang seperti itu. Barang halal datang kepada dirinya.
Dari kisah tersebut, ada makna tersirat dari Al Quran surat Ali Imron ayat 134.
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran [3]: 134).
Mari kita beramal saleh, mengharap akan ada pertolongan disaat kita kesusahan menghadapi kehidupan akhirat yang sangat pedih, seperti yang digambarkan oleh Allah atas firman-firmannya. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang sesat dan selalu ditunjukan oleh Allah jalan yang benar.

Mengapa Engkau Pergi Mendahuluiku (oase iman)

kematianSiang itu angin begitu kencang menusuk kedalam tulang rusuk ku, hujan yang sangat deras terus membasahi seluruh badan ku, namun aku tidak memperdulikan itu semua, aku tidak perduli berapa lama aku akan seperti ini. aku hanya terpaku di depan sebuah tumpukan tanah, yang terdapat taburan bunga, serta ada nya batu nisan yang bertuliskan sebuah nama, dan ternyata itu adalah nama sahabat lama ku, yang sejak 6 tahun yang lalu aku tidak pernah tau kabar nya.
Dina adalah sahabat lama ku waktu kecil, dulu kami sering bermain bersama, orang tua dina pun bersahabat dengan orang tua ku, aku menganggap dina sudah seperti kakak ku sendiri, saat aku sedih dia selalu bisa menghibur ku dan membuat ku tertawa, dan aku pun sebalik nya.
Setiap aku pergi dina selalu turut pergi bersamaku, kami selalu menjaga satu sama lain. Dan kebetulan rumah ku tidak terlalu jauh dari rumah dina, saat masih di bangku dasar aku selalu berangkat sekolah bersama dina, meskipun kami tidak sekolah di sekolah yang sama.
Saat masuk SMP dina tidak tinggal lagi di Jakarta, karena orang tua nya di pindah tugaskan ke bandung, maka dia pun harus bersekolah di bandung. Rasa sedih ku rasakan, saat aku harus berpisah dengan dina, air mata ku tidak bisa berhenti menetes saat aku memeluk tubuh sahabat ku itu.
Dina meyakinkan aku bahwa dia akan terus mengabari aku, dan dia juga meyakinkan aku bahwa persahabatan kita tidak akan berakhir sejauh apapun kita tinggal. Aku pun merelakan dina untuk berangkat ke bandung, perlahan mobil yang dinaiki dina dan keluarga nya pun beranjak pergi dari halaman rumah ku. Lambaian tangan dina pun semakin lama semakin jauh, jauh, jauh dan perlahan-lahan mulai menghilang.
Tiga bulan telah berlalu, semenjak dina pergi, hari-hari ku tidak seceria dulu, aku memang mempunyai teman-teman baru di sekolah dan rumah ku, tapi mereka semua tidak ada yang bisa seperti dina, aku sungguh merindukan sahabat kecil ku, ingin rasa nya aku ke bandung untuk menemui dina, tapi dina selalu melarang aku untuk menemui nya, dia selalu berkata”Aku mohon jangan temui aku dulu, aku ingin menguji persahabatan kita, jadi tunggu lah sampai kita lulus SMP, setelah itu aku janji akan menemui mu di tempat kita sering bermain sewaktu kecil”.
Dina memang tidak pernah lupa untuk mengabari aku tentang keadaan nya disana, setiap hari dia selalu sms dan menelpon aku, aku sangat bahagia bila menerima sms atau telpon dari nya.

Hari-hari terus berlalu, tidak terasa waktu begitu cepat bergulir, tiga tahun sudah aku menjadi siswi SMP, dan tiga tahun sudah persahabatan ku dan dina diuji, dan selama tiga tahun itu juga aku menjalin hubungan dengan seorang pria yang bernama Dimas yang sangat aku sayangi. Dimas lah yang selalu menemani aku dikala aku kesepian, dan disaat aku sedang merindukan dina, dimas selalu meyakinkan aku bahwa aku akan bertemu dengan sahabat ku itu.
Aku sangat bahagia, karena lusa aku akan pergi ke Bandung untuk menemui sahabat kecil ku. Aku pun telah mempersiapkan sebuah kado yang sangat special untuk sahabat ku, karena kita berjanji akan saling tukar-menukar kado saat kita bertemu.
Lusa telah tiba, 26 Desember, itulah tanggal yang aku lingkari di kalender yang ada di sebelah meja belajar ku, tanggal itu adalah tanggal kesepakatan aku untuk bertemu dina. Pagi ini aku segera beranjak bangun dari tempat tidur, lalu segera mungkin aku mandi dan bersiap-siap karena jam 08. 00 aku akan pergi ke Bandung bersama dimas. Jam telah menunjukan pukul 07. 30, aku bergegas turun keruang tamu untuk menunggu Dimas dan berpamitan dengan orang tua ku. Selama aku menunggu Dimas, aku berusaha untuk menelpon Dina, tapi aku tidak mengerti mengapa selama 3 hari ini handphone dina tidak pernah bisa aku hubungi, tapi aku tidak mau sedih, karena aku yakin hari ini aku akan bertemu dengan dina.
Saat aku sedang berusaha menelpon dina, aku mendengar suara motor dimas, dan ternyata dimas telah berada di depan rumahku. Aku pun segera keluar untuk menemui Dimas dan orang tua ku juga turut keluar bersama ku. Tapi ada satu hal yang membuat ku bingung, saat aku ingin berpamitan dengan orang tua ku, orang tua ku berkata :
”Nak apapun yang akan kamu lihat disana, kamu harus bisa menerima nya, kamu harus yakin ini semua sudah jalan nya”.
Aku sungguh tidak mengerti apa maksud dari perkataan orang tua ku, tapi aku tidak membahas itu, karena yang ada dalam pikiran ku sekarang, hanya ingin bertemu dina sahabatku.
Jam menunjukkan pukul 11 siang, akhirnya aku sampai dikota Bandung, dan beberapa kilometer lagi aku akan sampai di rumah Dina. Betapa terkejut nya aku, karena saat aku sampai di depan rumah nya Dina, aku melihat banyak nya orang-orang di rumah nya dan ada beberapa bendera berwarna kuning di depan rumah nya, aku segera berlari masuk kedalam rumah dina.
Aku tidak bisa menahan air mata ku yg terus menetes, saat aku melihat sebuah tubuh terbaring kaku dengan ditutup kain putih dan di kelilingi orang banyak sambil membaca ayat-ayat al-quran, dan ternyata itu adalah tubuh dina sahabat ku. Aku terus menangis, menangis dan menangis karena aku tidak percaya Dina akan pergi.

Orang tua dina berusaha untuk membuat ku tenang, dan mereka menceritakan semua kepada ku, Ternyata sejak umur 5 tahun dina menderita penyakit kanker darah, tapi dia tidak pernah mau menceritakan itu semua kepada ku, karena dia tidak mau masa kanak-kanak nya di hiasi dengan kesedihan, dia selalu menutupi rasa sakit nya dengan canda tawa nya, dan ternyata dina pindah ke Bandung bukan karena orang tua nya di pindah tugas kan, tapi karena dina tidak mau aku sedih bila tau kenyataan yang sebenarnya. dina tidak mau membuat masa kecil ku tidak bahagia, maka dina selalu menutupi semua nya dari ku.
Air mata ku semakin deras mengalir saat aku mendengar semua pernyataan orang tua dina, Dimas yang ikut mendampingi ku berusaha menenangkan aku, dan aku baru tahu ternyata orang tua ku telah terlebih dahulu mengetahui semua nya, tapi atas permohonan dina mereka juga menutupi nya dari ku.
Sungguh aku sangat kecewa, kenapa semua orang tega membohongi aku, kenapa semua nya harus dirahasiakan dari ku, apa aku tidak boleh merasakan apa yang sahabat ku rasakan. Orang tua dina berusaha untuk membuat ku mngerti kenapa mereka melakukan ini, Dimas pun turut menenangkan aku, akhirnya aku berusaha untuk bisa menerima penjelasan mereka.
Setelah orang tua dina menjelaskan semua, mereka memberikan aku sebuah surat yang ditinggalkan dina untuk ku yang bertuliskan tinta biru.
Untuk sahabat ku,maafkan aku jika saat kau membaca surat ini, aku tidak bisa ada di dekat mu lagi…sungguh aku tidak pernah berniat untuk membohongi mu, aku hanya ingin masa kecil kita diwarnai dengan kebahagiaan bukan kesedihan.
Terima kasih karena kau telah membuat masa kanak-kanak ku berwarna.aku melakukan ini untuk menguji persahabatan kita, dan aku ingin engkau bisa terbiasa bermain dan menghabiskan masa remaja mu tanpa aku, aku sangat bahagia bisa mempunyai sahabat kecil seperti mu.
Sahabatku, aku mohon jaga orang tua ku, dan juga adik-adik ku.aku juga menitipkan sebuah boneka kayu untuk mu, tolong jaga boneka itu, dan jadikan boneka itu pengganti diriku..
Dari Sahabatmu,

Sunah yang Diabaikan (oase iman)

pacaranRasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya”.(HR.Bukhari)
Hadits di atas hampir semua orang tahu, tetapi sangat sedikit yang mengindahkannya. Seringkali malah hanya jadi bahan candaan belaka. Buat lucu-lucuan. Astaghfirullahal adzim.
Apa yang terjadi ketika sunah Rasulullah ini diabaikan ? Kerusakan moral yang begitu masif telah terjadi, baik di kalangan remaja ataupun orangtua. Segalanya berawal ketika seorang laki-laki berduaan dengan wanita tanpa mahromnya. Ketika merasa aman berduaan saja tanpa menyadari sesungguhnya syaithan menjadi orang ketiga di.antara mereka. Tentu saja setan tidak hanya jadi obat nyamuk diantara mereka tetapi setan menjadi katalisator terjadinya kemaksiatan. Setan akan mengipasi-ngipasi dan menghias-hiasi sehingga nampak indah dan menyenangkan apa yang mereka lakukan. Maka yang awalnya hanya duduk berdua, mengobrol biasa saja, semakin lama akan duduk semakin dekat kemudian berpegangan tangan dan seterusnya hingga mereka tanpa terasa telah terseret bujukan setan hingga dosa besar pun dikerjakan tanpa sadar bahkan mungkin tanpa penyesalan. Begitu mudah dosa besar dikerjakan dan sudah begitu banyak korban, tetapi banyak orang tak kunjung sadar.
Kebebasan pergaulan sekarang ini yang berakibat pada kebebasan seksual di luar pernikahan bisa di cegah jika para orangtua menjalankan sunah Rasul ini, mereka mengawasi dan tidak membiarkan putra putrinya untuk bebas berduaan tanpa pengawasan. Baik di dunia maya maupun nyata,  karena keduanya sama berbahayanya. Ketika seseorang merasa tak ada yang mengawasi maka mereka akan cenderung berbuat yang tak seharusnya.
Tentu saja larangan tak akan efektif tanpa penjelasan dan pengkondisian sebelumnya. Tugas orangtua adalah memberi pengertian sejak mereka kanak-kanak tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, tidak membiarkan anak perempuan tidur bareng anak laki-laki, dan memberikan batas-batas pergaulan yang sesuai syariat terutama menjelang mereka memasuki usia pubertas. Yang tak kalah pentingnya adalah keteladanan dari orangtua, ketika mereka melihat bagaimana ibunya menjaga diri ketika menghadapi tamu laki-laki atau tetangga laki-laki maka mereka akan melihat contoh nyata sehingga ketika disampaikan larangan tersebut mereka bisa memahami dan tahu bagaimana menjalaninya.
Sungguh Allah melalui RasulNya telah memberi jalan yang mudah  dan sederhana untuk mengatasi kerusakan moral seburuk apapun, tinggal tekad dan kemauan kita. Belum cukup burukkah keadaan sekarang ini sehingga kita masih merasa aman untuk tidak berbuat apapun?

Keajaiban Sebuah Harapan (oase iman)

http://img.eramuslim.com/media/2013/07/alam2.jpegKetika satu pintu tertutup maka pintu lain terbuka.
Namun, kita sering kali terpaku menyesali pintu yang tertutup itu,
hingga tak bisa melihat pintu lain yang terbuka bagi kita
~Alexander Graham Bell~
(Ilmuwan dan Penemu)
Saya dapat oleh-oleh dari acara kajian semalam. Bukan makanan yang enak, tapi kisah tentang keajaiban sebuah harapan. Awalnya saya pendam saja sebagai masukan tersendiri bagi jiwa saya. Tapi kemudian saya pikir akan punya kemanfaatan yang lebih jika saya mau berbagi. Yah, karena untuk berbagi harta saya belum cukup mampu, maka izinkan saya berbagi cerita ini untuk Anda. Syukur-syukur bisa membuka cakrawala dan wawasan yang berbeda dalam meneropong sisi kehidupan yang penuh liku ini.
Mentor spiritual saya yang menjadi pembicara semalam tidak membawakan materi yang berat dan spesifik, hanya menceritakan kehidupan salah satu tetangganya. Sebut saja Pak Sholeh (bukan nama sebenarnya), awalnya dia dan keluarganya hidup makmur berkecukupan. Mempunyai banyak usaha, anaknya juga begitu. Salah stunya punya usaha warnet yang rame di Jogjakarta. Namun, layaknya roda, kehidupan ini berputar, tak selamanya orang merasakan hidup senang dengan harta yang melimpah.
Pada suatu waktu, usahanya bangkrut. Keluarganya menyalahkannya sebagai biang dari kebangkrutan. Walaupun masih berkumpul dengan keluarganya, tapi dia merasa ada sesuatu yang berbeda, harga dirinya sebagai kepala keluarga dipandang sebelah mata oleh isteri dan anak-anaknya. Dia memang merasa bersalah, tapi perubahan sikap keluarganya yang drastis tersebut telah mengusik hatinya, membuatnya sedikit terluka. Dalam kondisi demikian, si bapak ini lebih banyak merenung sambil berpikir untuk memulai usaha lagi dari nol karena memang hartanya telah habis, telah bangkrut.
Dan..Si bapak mulai merintis kerja menjadi tukang rombeng
Pekerjaan sebagai tukang rombeng (mencari barang-barang bekas) memang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Awalnya dengan terpaksa melakukan pekerjaan itu. Tapi pelan-pelan menjadi biasa. Begitulah hari-hari melelahkan dijalaninya sambil tetap terus merenungkan diri tentang keadaan yang menimpanya. Dia lantas lebih banyak berpikir tentang eksistensi dirinya dan kekadiran akan Tuhan. Ya, dia mulai sadar bahwa selama ini jarang menghadirkan Tuhan dalam hatinya, lebih banyak lalai, lebih banyak lupa.
Nah, pada suatu waktu, si bapak ini mendaptkan uang enambelas ribu limaratus (Rp 16. 500) seharinya. “Lumayan”, gumamnya sambil mengusap peluh di keningnya. Karena siang begitu terik dan diri terasa lelah, mampir ke sebuah warung untuk membeli minuman. Dalam warung tersebut, ada dua orang lelaki yang sedang asyik bermain catur. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia justru mentraktir keduanya minum teh botol bersama, ya, bapak tukang rombeng ini yang membayarnya.
Rupanya, salah satu lelaki itu terkesan. Berawal dari traktiran itu, salah satu bapak tersebut mengajak si tukang rombeng kerumahnya, ngobrol sana sini. Di sinilah kemudian terseritakan apa yang dialami tukang rombeng itu. Termasuk cerita tentang keluarganya yang tak lagi menghargai dirinya setelah jatuh ke jurang kemiskinan. Mendengar ceritanya, hatinya pun luluh dan trenyuh. Peristiwa tak terduga berjalan spontan. Kebetulan, ada sebuah rumah yang masih kosong yang masih menunggu pembeli. Dan tukang rombeng ini disuruh untuk menempati saja tanpa harus bayar.
Subhanallah, bersyukurlah dirinya. Tentu, semuanya bukan semata-mata karena sebotol teh, tetapi karena ketulusan dan kegigihan dalam hidupnya. Rela menjalani kehidupan dengan pekerjaan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya untuk kembali mencapai kesuksesan seperti sediakala. Tak kenal putus asa, yang ada hanyalah harapan akan sebuah nasib yang lebih baik kelak kemudian. Cerita diakhiri ketika tukang rombeng sedang merintis usaha baru di sebuah rumah yang ditempatinya secara cuma-cuma.
Kawan, inilah kejaiban sebuah harapan…
Kita, tentu pernah mengalami kondisi yang pelik, kondisi di mana kadang mustahil sebuah persoalan bisa terselesaikan. Namun, karena kekuatan sebuah harapan, kita pelan-pelan toh akan bisa menyelesaikan persoalan itu. Jika tak ada harapan, bisa jadi keterputusasaan yang muncul. Orang frustasi memikirkan guncangan masalah hebat menghantui dirinya, ujungnya bisa bunuh diri. Nah, bagi Anda yang kini sedang dihimpit masalah besar. Hidupkan kekuatan harapan, hilangkan rasa putus asa dan berkeluh kesah berkepanjangan. Dan, Anda akan menjadi orang hebat kelak ketika bisa melalui liku roda kehidupan yang kurang menyenangkan ini.

DICINTAI ANAK YATIM (Oase iman)

http://img.eramuslim.com/media/2013/09/anak12.jpeg“Kalau Ibu sudah nggak ada, tetap santuni anak yatim ya.” Kalimat tersebut terucap belasan tahun lalu dari bibir tipis nan berkerut nenek saya kepada ibu. Wajar bila nenek berpesan demikian, sebab terhitung sejak tahun 1970an bersama sang suami ia rajin menyantuni anak-anak yatim dan kaum dhuafa. Setidaknya, setiap tahun di bulan Muharam acara santunan anak yatim digelar di rumahnya.
Ketika kakek meninggal tahun 1984, ratusan pasang mata anak yatim menangis. Saya yakin mereka mencintai kakek dan khawatir kehilangan orang yang selama ini menyantuninya. Ternyata kekhawatiran mereka tak berlangsung lama, karena nenek berjanji untuk tetap melanjutkan tradisi keluarga itu. Sayangnya, sejak seluruh keluarga nenek pindah dari Jakarta ke Tangerang, entah siapa yang melanjutkan menyantuni anak-anak yatim di Jakarta itu. Nenek tetap menyantuni anak yatim, tentu anak-anak yatim di Tangerang, di sekitar rumahnya.
Puluhan pasang mata anak yatim pun menangis sedih saat nenek meninggal di tahun 1998. Sebelumnya, nenek berpesan kepada semua anak-anaknya agar tetap menyantuni anak yatim. “Jika kita tak punya uang, ajak orang lain untuk menyantuni anak yatim. Dicintai anak yatim itu salah satu kunci pintu surga,” salah satu pesan terakhirnya. Tentu saja, tak satupun anak-anak nenek berani mengabaikan pesan tersebut. Dan hingga kini, tradisi ini masih terus berlangsung meski kami sering tak tahu harus mendapat bantuan dari mana untuk menyantuni anak-anak yatim, janda tua dan kaum dhuafa di sekitar rumah.
Tahun lalu, menjelang bulan Muharram tiba, biasanya ibu mulai direpotkan dengan meminta anak-anaknya membuat proposal permohonan bantuan. Semakin dekat bulan Muharram ibu semakin panik, terlebih jika belum satu pun permohonan mendapat jawaban. Saya tahu persis kekhawatiran ibu, ia tak ingin malu kepada 
anak-anak yatim dan janda tua itu jika mereka datang ke rumah dan tak mendapatkan apa pun. Karena tanpa diundang pun, mereka sudah tahu jadwal pemberian santunan itu, yakni tepat tanggal 10 Muharram setiap tahunnya. “Ibu tak ingin membuat mereka kecewa. Biar sedikit yang penting tetap ada,” harapnya.
Muharram tahun ini sudah tiba. Seperti biasa, ibu pun tetap sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Memang tidak pernah ada seremoni dan adegan foto pemberian santunan. Anak-anak yatim itu hanya datang untuk mengambil “haknya”, sudah itu pulang. Namun ibu masih terlihat resah, belum banyak bantuan yang didapatnya untuk membeli sembako dan sedikit untuk mengisi amplop kosong. Semua anak-anak ibu sudah membantu, bahkan membawa proposal permohonan bantuan itu ke kantor masing-masing.
Dalam keresahannya itu, ibu berujar, “Cuma satu keinginan ibu, yakni dicintai anak-anak yatim. Ibu ingin saat meninggal nanti ada anak-anak yatim yang menangis. Itu berarti mereka mencintai ibu”. Dan sambil menghitung dana yang ada ia pun berpesan persis seperti dulu nenek berpesan kepadanya, “Jangan putus amal keluarga, tetap santuni anak yatim”.
Saya bisa menangkap kekhawatiran ibu dalam dua hal. Pertama, ibu khawatir tahun ini tidak banyak bantuan yang didapat, sehingga tidak banyak pula yang bisa diberikan kepada anak-anak yatim. Kedua, nampaknya ibu pun khawatir anak-anaknya tak melanjutkan tradisi ini. Ah ibu, doakan anakmu ini diberikan rezeki yang cukup, agar ada yang terbagi untuk mereka. Tentu saya juga punya keinginan yang sama, mendapatkan salah satu kunci surga karena dicintai anak yatim.***

SARAN MITA JIC

Nama

Email *

Pesan *