Ada seorang sahabat, sebut saja Zaed. Zaed adalah saudagar kaya yang
ingin menshodaqohkan sebagian hartanya, karena Zaed tidak ingin orang
lain tahu bahwa dia akan bershadaqoh maka si Zaed memilih bershadaqoh
pada malam hari.
Malam pertama, Zaed pergi ke suatu tempat dengan membawa satu kantong
plastik yang berisi penuh uang dinar. Lalu Zaed memberikan kantong yang
berisi plastik tersebut kepada orang tidak dikenal yang sedang berada
di tempat tersebut.
Pagi harinya, Zaed mendapat kabar dari masyarakat bahwa tadi malam
ada saudagar kaya yang kikir mendapatkan satu kantong berisi penuh uang
dirham. Lantas, si Zaed berniatan lagi untuk bershadaqoh kepada orang
yang tidak mampu pada malam kedua.
Malam keduanya, Zaed pergi dengan membawa satu kantong berisi penuh
uang dirham, setelah sampai di suatu tempat Zaed menemukan perempuan
yang sendiri duduk di samping jalan, lalu Zaed memberikan kantongnya
kepada perempuan tersebut. Zaed lalu pulang kerumahnya.
Esok harinya, Zaed mendengar kabar lagi bahwa ada perempuan pekerja
seks komersial yang mendapatkan satu kantong berisi penuh uang dirham,
perempuan tersebut mengaku ada seorang yang memberinya ketika dirinya
sedang duduk sendiri di samping jalan.
Mendengar kabar yang seperti itu, Zaed tetap mempunyai niatan untuk
membantu orang yang sedang membutuhkan, lalu pada malam ketiganya Zaed
pergi ke suatu tempat dengan membawa kantong berisi penuh uang dirham.
Sesampainya di tempat, Zaed bertemu dengan orang laki-laki asing yang
sedang berdiri sendirian.
Esok harinya, lagi-lagi Zaed mendengar kabar bahwa ada orang dikenal
sebagai pencuri atau maling yang mendapatkan satu kantong berisi penuh
oleh dirham ketika dirinya berniatan untuk bermain nakal kepada warga,
malam tadi.
Meski seperti itu, Zaed tidak merasa merugi. Zaed tetap berserah diri
kepada atas sesuatu yang sudah diberikan kepada orang lain.
Ternyata Allah berkehendak lebih baik, satu kantong yang diberikan
oleh Zaed kepadanya menjadi batu pijakan untuk merubah dirinya untuk
lebih baik lagi. Allah ternyata merencanakan sangat lebih baik dari
rencana seorang hambanya.
Orang pertama yang mulanya dia seorang yang kaya raya tetapi kikir,
setelah menerima pemberian yang secara cuma-cuma dari orang yang tidak
dikenal, walhasil kekikiran berubah menjadi kesantunan. Orang tersebut
berfikir ulang, si Zaed baik sekali, mau beramal dengan keikhlasan total
dan tidak ingin diketahui oleh banyak orang. Bagaimana dengan aku?
Terkadang ada orang yag meminta kepadaku, aku jawab dengan banyak
alasan. Dan aku sukanya beramal didepan publik agar semua orang tahu,
akan tetapi entaslah. AstaghfirullahalAdzim.
Orang yang kedua, dialah perempuan pekerja seks komersial atau yang
sering kita sebut dengan bahasa halusnya PSK, setelah perempuan tersebut
mendapat rezeki dari orang yang tidak dikenal dengan tanpa pamrih
apapun, ia sadar, ia tidak lagi merelakan kehinaan didalam dirinya demi
kebutuhanya terpenuhi, didalam hatinya, ia berkata “Tuhan, ternayata
saya salah, seharusnya saya tidak menjual diri saya karena masih ada
orang yang ikhlas membantu saya”.
Orang ketiga, tidak berbeda dengan orang pertama dan kedua, atas
pemberian yang mulia dari orang yang tidak dikenal (Zaed), ia dapat
berintropeksi diri, mengoreksi diri dengan renungan amal baik, yang
sebelumnya Zaed tidak pernah menemukan hal yang seperti itu. Barang
halal datang kepada dirinya.
Dari kisah tersebut, ada makna tersirat dari Al Quran surat Ali Imron ayat 134.
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu
lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan. (QS Ali Imran [3]: 134).
Mari kita beramal saleh, mengharap akan ada pertolongan disaat kita
kesusahan menghadapi kehidupan akhirat yang sangat pedih, seperti yang
digambarkan oleh Allah atas firman-firmannya. Semoga kita tidak termasuk
orang-orang yang sesat dan selalu ditunjukan oleh Allah jalan yang
benar.






0 komentar:
Posting Komentar