Dina adalah sahabat lama ku waktu kecil, dulu kami sering bermain
bersama, orang tua dina pun bersahabat dengan orang tua ku, aku
menganggap dina sudah seperti kakak ku sendiri, saat aku sedih dia
selalu bisa menghibur ku dan membuat ku tertawa, dan aku pun sebalik
nya.
Setiap aku pergi dina selalu turut pergi bersamaku, kami selalu
menjaga satu sama lain. Dan kebetulan rumah ku tidak terlalu jauh dari
rumah dina, saat masih di bangku dasar aku selalu berangkat sekolah
bersama dina, meskipun kami tidak sekolah di sekolah yang sama.
Saat masuk SMP dina tidak tinggal lagi di Jakarta, karena orang tua
nya di pindah tugaskan ke bandung, maka dia pun harus bersekolah di
bandung. Rasa sedih ku rasakan, saat aku harus berpisah dengan dina, air
mata ku tidak bisa berhenti menetes saat aku memeluk tubuh sahabat ku
itu.
Dina meyakinkan aku bahwa dia akan terus mengabari aku, dan dia juga
meyakinkan aku bahwa persahabatan kita tidak akan berakhir sejauh apapun
kita tinggal. Aku pun merelakan dina untuk berangkat ke bandung,
perlahan mobil yang dinaiki dina dan keluarga nya pun beranjak pergi
dari halaman rumah ku. Lambaian tangan dina pun semakin lama semakin
jauh, jauh, jauh dan perlahan-lahan mulai menghilang.
Tiga bulan telah berlalu, semenjak dina pergi, hari-hari ku tidak
seceria dulu, aku memang mempunyai teman-teman baru di sekolah dan rumah
ku, tapi mereka semua tidak ada yang bisa seperti dina, aku sungguh
merindukan sahabat kecil ku, ingin rasa nya aku ke bandung untuk menemui
dina, tapi dina selalu melarang aku untuk menemui nya, dia selalu
berkata”Aku mohon jangan temui aku dulu, aku ingin menguji persahabatan
kita, jadi tunggu lah sampai kita lulus SMP, setelah itu aku janji akan
menemui mu di tempat kita sering bermain sewaktu kecil”.
Dina memang tidak pernah lupa untuk mengabari aku tentang keadaan nya
disana, setiap hari dia selalu sms dan menelpon aku, aku sangat bahagia
bila menerima sms atau telpon dari nya.
Hari-hari terus berlalu, tidak terasa waktu begitu cepat bergulir,
tiga tahun sudah aku menjadi siswi SMP, dan tiga tahun sudah
persahabatan ku dan dina diuji, dan selama tiga tahun itu juga aku
menjalin hubungan dengan seorang pria yang bernama Dimas yang sangat aku
sayangi. Dimas lah yang selalu menemani aku dikala aku kesepian, dan
disaat aku sedang merindukan dina, dimas selalu meyakinkan aku bahwa aku
akan bertemu dengan sahabat ku itu.
Aku sangat bahagia, karena lusa aku akan pergi ke Bandung untuk
menemui sahabat kecil ku. Aku pun telah mempersiapkan sebuah kado yang
sangat special untuk sahabat ku, karena kita berjanji akan saling
tukar-menukar kado saat kita bertemu.
Lusa telah tiba, 26 Desember, itulah tanggal yang aku lingkari di
kalender yang ada di sebelah meja belajar ku, tanggal itu adalah tanggal
kesepakatan aku untuk bertemu dina. Pagi ini aku segera beranjak bangun
dari tempat tidur, lalu segera mungkin aku mandi dan bersiap-siap
karena jam 08. 00 aku akan pergi ke Bandung bersama dimas. Jam telah
menunjukan pukul 07. 30, aku bergegas turun keruang tamu untuk menunggu
Dimas dan berpamitan dengan orang tua ku. Selama aku menunggu Dimas, aku
berusaha untuk menelpon Dina, tapi aku tidak mengerti mengapa selama 3
hari ini handphone dina tidak pernah bisa aku hubungi, tapi aku tidak
mau sedih, karena aku yakin hari ini aku akan bertemu dengan dina.
Saat aku sedang berusaha menelpon dina, aku mendengar suara motor
dimas, dan ternyata dimas telah berada di depan rumahku. Aku pun segera
keluar untuk menemui Dimas dan orang tua ku juga turut keluar bersama
ku. Tapi ada satu hal yang membuat ku bingung, saat aku ingin berpamitan
dengan orang tua ku, orang tua ku berkata :
”Nak apapun yang akan kamu lihat disana, kamu harus bisa menerima nya, kamu harus yakin ini semua sudah jalan nya”.
Aku sungguh tidak mengerti apa maksud dari perkataan orang tua ku,
tapi aku tidak membahas itu, karena yang ada dalam pikiran ku sekarang,
hanya ingin bertemu dina sahabatku.
Jam menunjukkan pukul 11 siang, akhirnya aku sampai dikota Bandung,
dan beberapa kilometer lagi aku akan sampai di rumah Dina. Betapa
terkejut nya aku, karena saat aku sampai di depan rumah nya Dina, aku
melihat banyak nya orang-orang di rumah nya dan ada beberapa bendera
berwarna kuning di depan rumah nya, aku segera berlari masuk kedalam
rumah dina.
Aku tidak bisa menahan air mata ku yg terus menetes, saat aku melihat
sebuah tubuh terbaring kaku dengan ditutup kain putih dan di kelilingi
orang banyak sambil membaca ayat-ayat al-quran, dan ternyata itu adalah
tubuh dina sahabat ku. Aku terus menangis, menangis dan menangis karena
aku tidak percaya Dina akan pergi.
Orang tua dina berusaha untuk membuat ku tenang, dan mereka
menceritakan semua kepada ku, Ternyata sejak umur 5 tahun dina menderita
penyakit kanker darah, tapi dia tidak pernah mau menceritakan itu semua
kepada ku, karena dia tidak mau masa kanak-kanak nya di hiasi dengan
kesedihan, dia selalu menutupi rasa sakit nya dengan canda tawa nya, dan
ternyata dina pindah ke Bandung bukan karena orang tua nya di pindah
tugas kan, tapi karena dina tidak mau aku sedih bila tau kenyataan yang
sebenarnya. dina tidak mau membuat masa kecil ku tidak bahagia, maka
dina selalu menutupi semua nya dari ku.
Air mata ku semakin deras mengalir saat aku mendengar semua
pernyataan orang tua dina, Dimas yang ikut mendampingi ku berusaha
menenangkan aku, dan aku baru tahu ternyata orang tua ku telah terlebih
dahulu mengetahui semua nya, tapi atas permohonan dina mereka juga
menutupi nya dari ku.
Sungguh aku sangat kecewa, kenapa semua orang tega membohongi aku,
kenapa semua nya harus dirahasiakan dari ku, apa aku tidak boleh
merasakan apa yang sahabat ku rasakan. Orang tua dina berusaha untuk
membuat ku mngerti kenapa mereka melakukan ini, Dimas pun turut
menenangkan aku, akhirnya aku berusaha untuk bisa menerima penjelasan
mereka.
Setelah orang tua dina menjelaskan semua, mereka memberikan aku
sebuah surat yang ditinggalkan dina untuk ku yang bertuliskan tinta
biru.
Untuk sahabat ku,maafkan aku jika saat kau membaca surat ini, aku
tidak bisa ada di dekat mu lagi…sungguh aku tidak pernah berniat untuk
membohongi mu, aku hanya ingin masa kecil kita diwarnai dengan
kebahagiaan bukan kesedihan.
Terima kasih karena kau telah membuat masa kanak-kanak ku
berwarna.aku melakukan ini untuk menguji persahabatan kita, dan aku
ingin engkau bisa terbiasa bermain dan menghabiskan masa remaja mu tanpa
aku, aku sangat bahagia bisa mempunyai sahabat kecil seperti mu.
Sahabatku, aku mohon jaga orang tua ku, dan juga adik-adik ku.aku
juga menitipkan sebuah boneka kayu untuk mu, tolong jaga boneka itu, dan
jadikan boneka itu pengganti diriku..
Dari Sahabatmu,
Dari Sahabatmu,






0 komentar:
Posting Komentar